Tim Peneliti Independen Rampungkan Proses Survei Rekonstruksi Peta Jalur Kereta Api Peninggalan Jepang

Tim Kajian Pemetan Sejarah dan Pemetaan Rel Kereta Api Pekanbaru-Taluk Kuantan

PEKANBARU— Memasuki bulan keenam pelaksanaan kajian sejarah Jaringan Rel Kereta Api Pekanbaru-Taluk Kuantan tepatnya pada Bulan Juni 2026 lalu, tim independen yang diketuai Syahyarwan Zam, sudah merampungkan tahapan krusial survei lapangan.

Kajian yang dilakukan itu berdasarkan adanya sejarah jalur rel kereta api yang berawal dari ambisi panjang Belanda untuk menguasai perdagangan batu bara dunia.

Terdiri dari empat tahapan, dimulai dari persiapan, survei lapangan, penyusunan kajian dan terakhir berupa sosialisasi yang akan dilaksanakan pada Bulan Agustus 2026, mendatang.

Menurut Syahyarwan Zam, meski potensi besar sebesar 10 juta ton batu bara ditemukan di Sumatera Tengah sekitar Desa Petai dan Logas oleh perusahaan milik H.C. Bluntschli pada masa Hindia Belanda, namun kendala biaya konstruksi selalu menggagalkan realisasi transportasi ini.

Kemudian, Jepang melanjutkan pekerjaan itu pada Bulan Maret 1943 yang menghubungkan Pekanbaru hingga Muaro Kalaban melalui Logas.

Pekerjaan rel tersebut melibatkan sekitar 100.000 pekerja romusa dari Pulau Jawa dan para tahanan perang.

Mirisnya, proyek itu sampai memakan korban sebanyak 80.000 romusa dan ribuan tahanan perang, akibat kerja paksa, perlengkapan yang tidak layak, kesehatan yang buruk, dan kekejaman dari tentara Jepang.

"Jalur ini akhirnya selesai dibangun pada 15 Agustus 1945, bersamaan dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Sehingga praktis tidak pernah dimanfaatkan secara komersial dan lambat laun tertelan hutan, yang kemudian berubah akibat perkembangan zaman, kata Syahyarwan Zam.

Untuk menyelamatkan data sejarah, tim kajian menggunakan metode digitalisasi garis jalur melalui aplikasi GIS guna memudahkan verifikasi di lapangan yang kini sudah berubah menjadi bangunan, jalan, hutan dan perkebunan moderen.

”Survei lapangan pada Mei - Juni 2026 fokus di tiga wilayah utama yakni Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Kampar, dan Kota Pekanbaru," katanya.

Mengenai tingkat risiko di lapangan, Ketua Tim Peneliti, Achmad al Azhari, menyampaikan, menyusuri hulu Sungai Kuantan menuju perbatasan Sumatera Barat, merupakan risiko tertinggi yang harus dihadapi.

Salah satunya, harus memanjat tebing terjal setinggi 8-10 meter dari muka sungai dan menebas semak belukar untuk menuju mulut Terowongan 1 dan 2 di Desa Koto Kombu.

"Mulut terowongan yang mengarah ke Sumatera Barat tak dapat diakses sama sekali akibat medan berat yang dipenuhi risiko ular berbisa," kata Babe, sapaan akrab ketua tim peneliti itu.

Dia menambahkan, tim sempat kehilangan sinyal komunikasi selama 24 jam penuh saat melakukan pemetaan di tepian kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling.

Babe melanjutkan, tim berhasil menemukan bukti-bukti autentik arkeologis, di antaranya Terowongan 1, Terowongan 2, timbunan tanah pondasi rel (embankment), kerukan tanah (cutting), dan pondasi jembatan (abutment/ABT).

Tim juga menggunakan alat detektor logam sehingga dapat menemukan paku rel di Muara Lembu, Kebun Lado, dan Gunung Sahilan.

Ditambah temuan keramik isolator listrik kereta api dan batu bata bermerek Mitsubishi dan Alexandra di lokasi bekas Kamp 14 di Desa Petai, Kuansing.

Benda-benda ini kemudian dibawa ke Dinas Kebudayaan Provinsi Riau untuk dibersihkan mengikuti tata cara dan standar museum, yang nantinya akan dihibahkan ke Museum Sang Nila Utama.

Dengan selesainya tahap pengumpulan data primer di lapangan, tim peneliti saat ini beralih pada tahap pengolahan data dan penyusunan kajian.

Tujuan akhirnya adalah merekonstruksi peta jaringan dengan cara menumpang-susunkan (overlay analysis) koordinat temuan di lapangan menjadi sebuah Peta Rekonstruksi Jaringan Rel Kereta Api Pekanbaru-Taluk Kuantan di Provinsi Riau yang akurat.

Kajian ini akan disosialisasikan pada bulan Agustus 2026, diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan sejarah yang tak ternilai, menguatkan signifikansi pelestarian cagar budaya, serta mengedukasi generasi mendatang tentang harga mahal sebuah perdamaian di balik jejak-jejak besi tua yang terkubur di bumi Riau.

Tim ini dibantu peneliti terdiri dari Muhammad Fajri, Bayu Amde Winata, Alfo Rahmatul Ikhfar, Azizah Nural’ Dhea Yahmisanto, Ahmad Fadillah, Muhammad Iqbal, Mike Agnesia, dan Haryanto.

Tenaga lokal turut mendukung di lapangan yakni Rhomi AB, Nasjuneri Putra, Ibnul Mubarak, Aidil Despi, Vitho Anugrah Pratomo, dan Dian Aismana. Tampilan desain dikerjakan oleh Rona Rizka dan Habibu Rahman.***


[Ikuti Zonapekan.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar